Cerdik9.online_ Penyebaran virus corona (Covid-19) kini kian menyebar ke-berbagai Negara baik Negara maju sampai ke Negara berkembang termasuk Indonesia. Dampaknya pun telah kita rasakan secara langsung, dilansir dari cnnindonesia.com, pada hari Jum’at (20/03/20) melalui Jubir pemerintah, Achmad Yurianto menerangkan bahwa kini sudah mencapai angka 369 orang yang terjangkit virus corona. Sebanyak 32 orang meninggal dunia, dan 17 orang lanya dinyatakan sembuh, dengan angka kasus terbanyak bermuara di DKI Jakarta dengan angka 215 orang positif terjangkit corona Covid-19.
Bahkan ditingkat dunia pun, Covid-19 sudah tersebar ke 93 Negara (kompas.com, 20/03/20). Ini merupakan jumlah angka yang sangat fantastis baik di tingkat global ataupun lokal. Pengaruh dari penyebaran virus ini pun terasa diberbagai sektor, baik pemerintahan, industri, ekonomi, pendidikan dan sektor lainya.
Dampak pun sangat dirasakan oleh masyarakat dari berbagi lapisan, dalam hal ini sangat jelas terasa pada sektor pendidikan. Ini dikarenakan dengan keluarnya setetmen Presiden RI, Jokowidodo yang menyatkan bahwa mulai hari ini saatnya kita untuk kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah dari rumah (15/03/20).
Dari setetmen Presiden diatas maka sudah jelas untuk mengurangi penyebaran Covid-19, masyarakat diharuskan untuk memusatkan kegiatan didalam rumah, agar interaksi langsung dengan orang lain berkurang, sehingga memperkecil angka penyebaran virus asal China tersebut.
Sontak dari hal diatas maka beberapa pemerintah daerah mengeluarkan instruksi untuk menghentikan beberapa aktivitas baik disektor pemerintahan dan juga pendidikan yang berhubungan dengan orang banyak, untuk sementara waktu.
Seperti yang dijelaskan oleh penulis pada paragraf ke 3, bahwa pada sektor pendidikan menimbulkan banyak respon dan narasi, baik positif ataupun negatif dari berbagai kalangan. Hal ini dikarenakan memang sitem pendidikan dan proses belajar mengajar tanpa tatap muka langsung (daring) merupakan hal yang baru pada sebagaian besar instasi pendidikan di Indonesia dalam penerapanya.
Namun menurut kacamata dari penulis ini merupakan sebuah dampak positif atau hikmah dari galaknya penyebaran virus Covid-19. Kenapa demikian? Sebab di era Revolusi Industri 4.0 mengintregasikan antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi, yeng kesemuanya sudah tidak lagi memberdayakan tenaga kerja langsung dari manusia, sebab semuanya akan menggunakan konsep otomatisasi yang dikaitkan dengan data, sistem dan juga internet.
Sistem pendidikan berbasis teknologi dan internet merupakan salah satu pengaruh dari perkembangan Industri 4.0, yang mau tidak mau Indonesia harus menerapkanya, agar tidak tertinggal dari Negara-Negara lain yang sudah siap dengan Revolusi Industri 4.0. Kenapa Indonesia mau tidak mau harus menerapkanya? Sebab menurut penulis hanya ada dua pilihan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, yakni “diam tertinggal atau melangkah menuju perubahan”. Maka jawaban yang harus dipilih adalah “melangkah menuju perubahan”.
Dengan meluasnya Virus Covid-19 di bumi pertiwi ini, maka secara otomatis beberapa intasi pendidikan mulai menerapkan pendidikan berbasis online yang dikolaborasikan dengan berbagai macam Softwere dan juga aplikasi yang berbasis internet. Dengan hal ini maka peserta didik akan melaksanakan proses belajar diwaktu dan tempat yang berbeda.
Namun pertanyaan mendasar, siapkah Indonesia untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 di sektor pendidikan, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut terletak pada SDM (sumber daya manusia). Hal ini berlaku pada tenaga pendidik dan juga peserta didik. Sebab seperti yang dikemukakan oleh Nadiem Karim (Mentri Pedidikan dan Kebudayaan) bahwa penggabungan teknologi dalam metode proses belajar mengajar akan mendorong budaya generasi muda dalam belajar merupakan sebuah trobosan bagi Indonesia yang saat ini tengah berada di puncak bonus demografi (liputan6.com ,23/10/19), maka dari hal itu untuk menyongsong pendidikan di era industri 4.0 pemaksimalan SDM sangatlah penting.
Secara alamiah untuk mengurangi dampak penyebaran corona, hari ini sebagian besar tenaga pendidik dan juga peserta didik mulai belajar dan menyesuakan diri dengan pendidikan berbasis online / daring yang memanfaatkan perangkat online seperti softwere dan juga aplikasi serta metode e-learning. Hampir sebagian besar masyarakat dari berbagai lapisan, baik anak-anak, remaja, dan dewasa secara alamiah dipaksa oleh keadaan untuk belajar menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan berbasis online.
Munculnya virus Covid-19 di Indonesia secara tidak langsung membuat sistem pendidikan Indonesia melangkah makin maju, dari yang awal proses pendidikan dibantu dengan kapur dan black board, kemudian sepidol dan white board, kemudian dibantu dengan bantuan layar proyektor / LCD dan kini melangkah menuju pada softwere, aplikasi dan juga internet serta perangkat digital lainya.
Maka dengan hal ini masyarakat Indonesia harus mulai MELEK terhadap perkembangan teknologi dan belajar untuk menyesuaikannya, agar SDM kita bisa selangkah maju dan peningkatan mutu pendidikan di era Revolusi Industri 4.0.
Tentu hal ini tidak akan berjalan lancar tanpa ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan juga masyarakat dari berbagai lapisan, baik pelajar, mahasiswa, dan juga tenaga pendidik itu sendiri. Dan ini merupakan sebuah tantangan bagi Indonesia disektor Pendidikan di tengah Revolusi Industri 4.0.
Semoga dengan paksaan alamiah ini Indonesia bisa selangkah makin maju untuk menyongsong Revolusi Industri 4.0 dari segala sektor, baik Pendidikan, Perekonomian, Perindustrian, Pertanian dan juga sektor lainya. Sebab disetiap kejadian pasti memiliki hikmah dan dampak positif.
Kemudian penyebaran virus corona Covid-19 ini salain menjadi peringatan bagi umat manusia pasti memiliki hikmah pula dikemunculanya, sebagai makhluk bertuhan penulis yakin bahwa sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar dan ikhtiar, “Innallaha Ma’assabirin” (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, QS:Al-Baqarah:153)
Penulis: Nur Ihsanuddin

