Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perempuan dan Problem Paradigma

Rabu, 08 Maret 2023 | Maret 08, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-03-08T14:13:48Z

 

Budaya patriarki memicu mayoritas perempuan dianggap lemah, posisinya di tengah masyarakat pun di bawah superioritas laki-laki. Oleh karena itu, perempuan tidak mampu melakukan sesuatu yang sama atau bahkan melampaui peran dari laki-laki. Hal tersebut secara terus menerus terjadi dan membentuk semacam budaya atau sebuah pandangan yang mengendap dalam alam bawah sadar perempuan. Tak ayal budaya tersebut yang membentuk pola pikir dan bertindak seorang perempuan dalam melihat berbagai persoaalan. 

Sebagaimana yang diketahui, isu kekerasan seksual, pelecehan seksual, catcalling dan diskriminasi terus mengalami peningkatan. Hal tersebut pun direspon dengan banyak kritik hingga ke tahap advokasi dari berbagai elemen masyarakat. Situasi ketertindasan sangat penting untuk terus disuarakan, agar masyarakat secara luas mengetahui bahwa Negara Indonesia masih rentan kekerasan terhadap perempuan. Begitupun kelompok-kelompok yang melakukan advokasi yang masif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan ditengah situasi darurat diskrimasi terhadap perempuan. 

Meski begitu, respon terhadap diskriminasi perempuan, musti diimbangi dengan pertukaran wacana-wacana menyoal perempuan, yang kian hari kian minim kita jumpai dalam ruang perempuan. Apabila determinan wacana yang dibahas hanya by case, dikhawatirkan menimbulkan efek kepada perempuan sendiri yakni pemahaman perempuan yang selalu menjadi korban, tidak mampu melawan, dan selalu menyalahkan sistem, hal tersebut secara otomatis memposisikan diri perempuan sebagai kaum nomor dua dalam setiap momentum. 

Oleh karena itu, sudut pandang perempuan harus memposisikan dirinya sebagai subjek, bukan melulu melihat dirinya sebagai korban. Subjek pada apapun itu, baik pada diri sendiri, keluarga, negara, pengetahuan, pendidikan, politik, ekonomi, dan lain-lain. Hal ini bukan berarti perempuan menjadi apatis dan cenderung tidak memperdulikan persoalan diskriminasi perempuan. Akan tetapi, memberikan sudut pandang baru bahwa persoalan diskriminasi terhadap perempuan akan dapat diminimalisir apabila perempuan dapat membuktikan bahwa ia mampu berada di ruang yang sama dengan laki-laki. 

Objektifikasi terhadap perempuan menjelma menjadi berbagai bentuk, dari hal yang paling sepele, misal publik mengatur penampilan perempuan, sehingga perempuan menjadi tidak percaya diri apabila tampil tidak bermake up sesuai yang dikehendaki oleh masyarakat. Belum lagi ruang privat yang syarat akan dogma atau keyakinan yang mengatur sedemikian rupa agar perempuan tetap berada di bawah kuasa laki-laki. Hampir seluruh ruang yang ada baik publik atau privat, tidak ada lagi ruang yang merdeka bagi perempuan. Lalu dimana ruang perempuan menempatkan dirinya sebagai subjek? 

Karena hal tersebut, perlu kiranya menciptakan ruang khusus bagi perempuan, seperti ruang diskursus perempuan atau bahkan sebuah komunitas yang memiliki konsentrasi terhadap wacana-wacana perempuan. Disatu sisi, sebuah kelompok yang hanya diikuti oleh perempuan memiliki sisi yang baik untuk melakukan stimulus atau media latihan bagi perempuan dalam mengekspresikan diri serta mengasah kemampuan yang dimiliki. Ruang tersebut pun, perempuan lepas dari sebuah situasi yang menghakimi dirinya. 

Akan tetapi, tidak selamanya perempuan akan terus bergiat dalam kelompok kecil tersebut. Ada saatnya perempuan juga harus meluas, dengan memasuki lingkaran yang lebih besar. Dalam ruang yang kecil tersebutlah perempuan membekali dirinya, agar memiliki struktur pengetahuan dan mental yang cukup untuk menghadapi berbagai pandangan yang mengkerdilkan dirinya. 

Jika sejenak, kita melihat peristiwa Women’s day, ribuan perempuan melakukan gerakan turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap beragam persoalan yang mereka alami. Namun, yang menjadi pertanyaan,  apakah semua perempuan yang turun kejalan tersebut sudah sadar akar persoalan dan apa sebenarnya yang harus dilakukan, jawabannya pasti belum. Hal tersebut dikarenakan tidak semua perempuan menjadi subjek dalam sebuah gerakan, terdapat juga yang menjadi objek yang hanya mengikuti saja karena berbagai alasan yang cenderung permukaan. Maka dari itu, gerakan tersebut harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup. Jika kita meminjam perspektif Simone De Behavior yang mengatakan, dalam proses transendensi (upaya melampaui diri) disyaratkan harus menjadi perempuan yang berintelektual. Jadi, apapun bentuk gerakan jika tidak dibarengi dengan pengetahuan maka tidak akan menghasilkan hasil yang maksimal. 

Apabila kita meminjam pemikiran Karl Marx mengenai dialektika antara basis struktur (realitas) dengan supra stuktur (kesadaran) yang menjelaskan bahwa supra struktur juga dapat mempengaruhi atau membentuk basis struktur. Artinya perempuan bisa menciptakan ruang atau basis strukturnya sendiri agar perempuan memiliki kesadaran atau cara berpikir bahwa dirinya adalah subjek.

Selain itu, perempuan harus siap masuk dalam setiap ruang dan memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni. Perempuan juga harus mampu melakukan kontranarasi terhadap narasi besar yang ada, meskipun hanya sebatas upaya kontranarasi bagi diri sendiri hingga terhadap berbagai sistem yang sangat partiarkis dan sudah terlampau lama menghegemoni. 

Hal sebagaimana diatas, tidak bisa dipisahkan dari kemampuan bernarasi yang biasanya dikuasai oleh para penulis, dan masih sangat sedikit perempuan yang menguasainya. Apabila kita mengacu pada perspektif Helena Cixous, yang mengatakan bahwa l’ecture feminine (feminine writing), perempuan perlu menulis dirinya sendiri, perempuan perlu meletakkan dirinya dalam ‘teks”. Karena dengan menulis perempuan kembali menguasai tubuh dan pemikirannya. Dengan menulis perempuan bisa menjadi subjek atas dirinya sendiri, dapat menuangkan segala bentuk ekspresi dan kritik baik terhadap realitas di dalam dirinya ataupun realitas yang berada diluar dirinya. 

Lalu yang selanjutnya adalah, perempuan perlu melakukan sebuah gerakan-gerakan penyadaran, baik melalui ruang-ruang diskusi atau dialog yang bertujuan untuk mentransformasi ilmu dan pemahaman kita kepada yang lain. Minimnya ruang Dialog Perempuan yang konsisten ini menjadi salah satu problem yang sangat mendasar. Ditengah perkembangan teknologi dan peradaban yang serba modern ini, tidak di imbangi dengan pemikir-pemikir perempuan yang fokus terhadap pengetahuan. 

Proses transformasi pengetahuan ini memang tidak mudah, diperlukan visi perjuangan yang berkelanjutan hingga kemampuan berbahasa dalam menyampaikan permasalahan yang sebenarnya terjadi kepada perempuan. Perempuan wajib menginsafi bahwa dirinya adalah subjek yang merdeka dan mandiri, Perempuan adalah subjek yang patut melepaskan dirinya dari berbagai pandangan yang mengkerdilkan dirinya.

Hidup Perempuan Yang Melawan.


oleh: Diana Berliyani



×
Berita Terbaru Update
close
Banner iklan disini